Mahu Sewa kereta murah plus driver service guide hubungi kami : +6287823737469

Kisah ini bermula dari seorang dewa dan
seorang dewi yang karena kesalahan yang dibuatnya di kayangan, akhirnya
harus menjalani hukuman di dunia. Keduanya dihukum untuk berbuat
kebaikan dalam hidupnya di bumi dalam bentuk seekor babi hutan dan
seekor anjing. Babi hutan jelmaan dewi itu bernama Wayung Hyang,
sedangkan anjing jelmaan dewa itu bernama Tumang. Wayung Hyang karena
dihukum sebagai babi hutan atau celeng, maka ia berusaha melakukan
berbagai kebaikan di dalam sebuah hutan. Sementara Tumang, sang anjing
jelmaan dewa itu mengabdi sebagai anjing pemburu pada seorang raja yang
bernama Sumbing Perbangkara.
Danau Situ Patenggang berlokasi
tidak jauh dari Kawah Putih Ciwidey, Bandung Selatan. Hanya berjarak
sekitar 7 KM dari tempat wisata Kawah Putih, Danau Situ Patenggang ramai
dikunjungi wisatawan karena pemandangannya yang eksotik. Selain
menikmati pemandangan danau sambil berpiknik, anda juga dapat bermain
perahu air di Danau Situ Patenggang.
Konon, situ yang airnya berasal dari
Sungai Cirengganis ini merupakan kumpulan air mata dari pasangan Dewi
Rengganis dan Ki Santang, yang cintanya tak bisa bersatu karena suatu
keadaan. Namun, mereka akhirnya bisa kembali bertemu pada sebuah batu
setelah sekian lama saling mencari. Batu inilah yang kelak dinamakan
batu cinta. Mitos pun menyeruak, bagi pasangan yang berkunjung ke batu
itu, cinta mereka akan abadi. Nama Patengan pun diduga diambil dari
kisah pasangan dalam legenda tersebut, yakni dari kata pateangan-teangan
yang dalam bahasa Sunda berarti saling mencari.

Cerita Legenda: Sangkuriang dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu

Kisah ini bermula dari seorang dewa dan
seorang dewi yang karena kesalahan yang dibuatnya di kayangan, akhirnya
harus menjalani hukuman di dunia. Keduanya dihukum untuk berbuat
kebaikan dalam hidupnya di bumi dalam bentuk seekor babi hutan dan
seekor anjing. Babi hutan jelmaan dewi itu bernama Wayung Hyang,
sedangkan anjing jelmaan dewa itu bernama Tumang. Wayung Hyang karena
dihukum sebagai babi hutan atau celeng, maka ia berusaha melakukan
berbagai kebaikan di dalam sebuah hutan. Sementara Tumang, sang anjing
jelmaan dewa itu mengabdi sebagai anjing pemburu pada seorang raja yang
bernama Sumbing Perbangkara.
Pada suatu hari, raja Sumbing
Perbangkara berburu ke hutan di tepi kerajaan. Di suatu tempat yang
dekat dengan tempat tinggal babi hutan Wayung Hyang, Sumbing Perbangkara
ingin sekali kencing. Ia kemudian kencing dan tanpa sengaja, tertampung
dalam sebuah batok kelapa. Selang beberapa saat, babi hutan Wayung
Hyang yang sedang kehausan kemudian meminum air kencing Sumbing
Perbangkara. Siapa sangka, Wayung Hyang akhirnya hamil.
Sumbing Perbangkara yang pada dasarnya
memang suka berburu kembali ke hutan tersebut setelah berbilang bulan,
tepat saat Wayung Hyang melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat
cantik. Sumbing Perbangkara yang berburu kijang mendengar suara tangisan
bayi. Ditemani anjing pemburunya Tumang, ia akhirnya menemukan bayi
perempuan yang tak lain adalah anaknya sendiri. Terpikat oleh keelokan
paras bayi itu, Sumbing Perbangkara membawanya pulang dan mengangkatnya
sebagai anak. Bayi perempuan itu kemudian diberi nama Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi kemudian semakin dewasa dan
tumbuh menjadi seorang putri yang berparas elok. Kecantikan tersiar ke
segenap penjuru kerajaan hingga didengar raja-raja dan para pangeran.
Dayang Sumbi diperebutkan. Perang besar terjadi di mana-mana. Merasa
tidak nyaman dengan perang yang terjadi di mana-mana karena
memperebutkan dirinya, Dayang Sumbi akhir meminta kepada ayahnya raja
Sumbing Perbangkara untuk menyendiri dan pergi dari kerajaan. Sumbing
Perbangkara akhirnya mengijinkannya dan memberikan Tumang si anjing
pemburu untuk menemaninya. Dayang Sumbi tinggal di sebuah pondok di tepi
hutan. Dengan kehidupannya yang sederhana tak seorangpun yang tahu
bahwa ia adalah Dayang Sumbi yang diperebutkan banyak raja dan pangeran.
Di pondok itu ia mengisi kegiatannya dengan menenun.
Suatu hari, saat menenun kain, Dayang
Sumbi duduk di atas sebuah bale-bale. Karena mengantuk, alat tenunnya
yang disebut torak jatuh ke lantai. Dayang Sumbi merasa malas sekali
memungut torak itu, sehingga ia bersumpah bahwa ia akan menikahi
siapapun yang mengambilkan torak itu untuknya. Tumang, anjing yang
ditugaskan menemani Dayang Sumbi akhirnya mengambilkan torak yang
terjatuh itu dan menyerahkannya kepada Dayang Sumbi. Demi memenuhi
sumpah yang terlanjur diucapkannya, Dayang Sumbi akhir menikah dengan
Tumang.
Raja Sumbing Perbangkara yang mengetahui
hal itu akhirnya merasa sangat malu. Putrinya yang cantik menikah
dengan seekor anjing dan kini tengah mengandung. Dayang Sumbi akhirnya
diasingkan ke hutan bersama-sama dengan Tumang. Tidak ada seorangpun
yang tahu bahwa Tumang adalah jelmaan seorang dewa, kecuali Dayang
Sumbi. Setiap malam purnama, Tumang dapat menjelma menjadi seorang
lelaki yang tampan.
Dayang Sumbi yang hamil akhirnya
melahirkan seorang putra yang tampan. Kulitnya putih dengan rambut lebat
legam seperti arang. Dayang Sumbi memberinya nama Sangkuriang. Bayi itu
kemudian tumbuh menjadi anak yang tangkas.
Sangkuriang telah mulai mahir memanah,
pada suatu hari diminta ibunya untuk berburu. Dayang Sumbi ingin sekali
memakan hati rusa. Ditemani Tumang, Sangkuriang berburu di hutan. Di
suatu tempat, Sangkuriang melihat babi hutan Wayung Hyang melintas. Ia
segera membidikkan panahnya. Akan tetapi Wayung Hyang berlari dan
bersembunyi dengan gesit. Sangkuriang memerintahkan anjing pemburunya,
Tumang untuk mengejar babi hutan itu. Tumang yang mengetahui jika babi
hutan itu bukan sembarang babi hutan melainkan jelmaan dewi yang bernama
Wayung Hyang, menolak perintah Sangkuriang. Tumang, si anjing jelmaan
dewa itu hanya duduk diam memandang Sangkuriang.
Sangkuriang sangat marah kepada Tumang.
Ia menakut-nakuti Tumang dengan mengarahkan anak panah pada Tumang.
Tetapi, tanpa sengaja, ia melepaskan anak panah itu pada busurnya. Anak
panah melesat dan menghunjam ke tubuh Tumang. Anjing jelmaan dewa itu
tewas. Sangkuriang yang ketakutan bercampur putus asa akhirnya mengambil
hati Tumang. Hati itu kemudian dibawanya pulang dan diserahkannya
kepada dayang Sumbi dengan mengatakan bahwa itu adalah hati rusa hasil
buruannya.
Dayang Sumbi dengan gembira memasak hati
itu, mereka ia makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Dayang Sumbi
teringat akan Tumang. Ia bertanya kepada Sangkuriang di mana anjing
Tumang. Sangkuriang yang akhirnya tidak bisa berkelit jujur mengakui
bahwa Tumang telah tewas karena panahnya dan hatinya telah diserahkan
kepada ibunya untuk dimasak.
Dayang Sumbi sangat murka. Sangkuriang
telah membunuh ayah kandungnya sendiri. Ia kemudian mengambil centong
nasi dan memukul kepala Sangkuriang hingga terluka sangat parah. Akan
tetapi, luka di hati Sangkuriang lebih parah. Ia akhirnya lari dari
pondok mereka.
Menyadari bahwa ia telah melukai anaknya
sendiri dan membuatnya lari, Dayang Sumbi akhirnya merasa sangat
menyesal. Sangkuriang adalah putranya satu-satunya yang telah
menemaninya hidup di hutan bersama Tumang. Demi menenangkan perasaannya,
Dayang Sumbi akhirnya bertapa. Dalam pertapaannya, Dayang Sumbi
kemudian dikaruniakan umur panjang dan awet muda. Semumur hidupnya, ia
akan tetap menjadi seorang wanita yang cantik dan tak akan pernah
terlihat tua.
Sementara itu, Sangkuriang yang lari
dengan kepala terluka mengembara ke mana-mana. Ia berguru dengan
beberapa orang sakti. Ia masuk hutan keluar hutan. Saat Sangkuriang
telah menjadi pemuda sakti dan perkasa, ia mengalahkan semua
makhluk-makhluk halus atau guriang yang ditemuinya dalam pengembaraan.
Ia menaklukkan mereka dan dengan kesaktiannya menjadi tuan dari
guriang-guriang itu.
Pada suatu ketika, dalam pengembaraannya
Sangkuriang akhirnya bertemu dengan Dayang Sumbi. Sangkuriang sangat
terpesona dengan kecantikan Dayang Sumbi, lalu akhirnya jatuh cinta.
Perasaan Sangkuriang berbalas. Dayang Sumbi juga terpikat oleh
ketampanan Sangkuriang. Akhirnya, Sangkuriang berniat menikahi Dayang
Sumbi.
Saat Dayang Sumbi menyisir rambut dan
merapikan ikat kepala Sangkuriang, ia melihat ada bekas luka yang sangat
besar. Setelah mengamati wajah Sangkuriang, barulah ia sadar bahwa ia
akan menikah dengan anak kandungnya sendiri. Sangkuriang sendiri tidak
menyangka bahwa Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya.
Dayang Sumbi akhirnya mencoba
menjelaskan kenyataan bahwa Sangkuriang adalah putranya. Tetapi
Sangkuriang telah kehilangan akal sehat. Sangkuriang tetap memaksa.
Akhirnya Dayang Sumbi secara halus menghindari terjadinya perkawinan
mereka. Ia meminta Sangkuriang membuatkannya sebuah danau lengkap dengan
perahunya dalam semalam. Bagi Dayang Sumbi, ini adalah hal yang
mustahil untuk dapat dilakukan oleh Sangkuriang. Anak kandungnya itu
tidak akan sanggup memenuhi persyaratan yang mintanya. Di luar dugaan
Dayang Sumbi, Sangkuriang menyanggupi permintaannya.
Malam itu, Sangkuriang bekerja keras
membuat sebuah danau. Sangkurang menebang pohon, bekas pohon tebangannya
itu berubah menjadi sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Bukit
Tunggul, sementara daun, ranting dan bagian kayu lainnya yang tidak
terpakai ditumpuknya dan terbentuklah Gunung Burangrang. Ia telah
bekerja separuh malam. Selanjutnya setelah perahu selesai dibuat
Sangkuriang mulai membuat danau. Sangkuriang, seperti pengerjaan perahu,
mengerahkan makhluk halus guriang untuk membantu. Melihat situasi ini,
Dayang Sumbi menjadi ketakutan. Akhirnya ia menebarkan kain-kain hasil
tenunannya di arah timur. Ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar
usaha Sangkuriang digagalkan. Doanya dikabulkan. Kain-kain tenunan
Dayang Sumbi bercahaya kemerah-merahan di ufuk timur. Ayam-ayam jantan
kemudian berkokok. Kemudian, makhluk-makhluk halus guriang yang membantu
pekerjaan Sangkuriang membuat danau mengira hari akan segera pagi.
Merekapun segera berlari dan bersembunyi masuk ke dalam tanah.
Sangkuriang tinggal sendirian dengan pekerjaan pembuatan danau yang
hampir selesai. Sangkuriang merasa usahanya telah gagal. Ia menjadi
marah sekali.
Sangkuriang mengamuk. Sumbat yang
dibuatnya untuk membendung Sungai Citarum dibuangnya ke arah timur dan
menjadi Gunung Manglayang. Danau Talaga Bandung yang dibuatnya kemudian
menyurut. Lalu dengan sekali tendangan keras, perahu buatannya terlempar
jauh dan tertelungkup. Dalam sekejap berubah menjadi Gunung Tangkuban
Perahu. Sangkuriang mengejar Dayang Sumbi yang melarikan diri. Ketika
Dayang Sumbi hampir terkejar oleh Sangkuriang di Gunung Putri, Dayang
Sumbi memohon pertolongan Sang Hyang Tunggal. Ia akhirnya menjelma
menjadi sekuntum bunga jaksi. Sangkuriang terus mencari Dayang Sumbi
hingga sampai ke Ujung Berung dan tersesat ke alam gaib.
Catatan:
Legenda Sangkurian dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu berasal dari Jawa Barat (Sunda) dan sudah lama menjadi cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi sebagai cerita pengantar tidur anak-anak. Cerita ini telah dibuat filmnya dalam beberapa versi.
Legenda Sangkurian dan Asal-Usul Gunung Tangkuban Perahu berasal dari Jawa Barat (Sunda) dan sudah lama menjadi cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi sebagai cerita pengantar tidur anak-anak. Cerita ini telah dibuat filmnya dalam beberapa versi.
Situ Patenggang
Danau Situ Patenggang berlokasi
tidak jauh dari Kawah Putih Ciwidey, Bandung Selatan. Hanya berjarak
sekitar 7 KM dari tempat wisata Kawah Putih, Danau Situ Patenggang ramai
dikunjungi wisatawan karena pemandangannya yang eksotik. Selain
menikmati pemandangan danau sambil berpiknik, anda juga dapat bermain
perahu air di Danau Situ Patenggang.
Konon, situ yang airnya berasal dari
Sungai Cirengganis ini merupakan kumpulan air mata dari pasangan Dewi
Rengganis dan Ki Santang, yang cintanya tak bisa bersatu karena suatu
keadaan. Namun, mereka akhirnya bisa kembali bertemu pada sebuah batu
setelah sekian lama saling mencari. Batu inilah yang kelak dinamakan
batu cinta. Mitos pun menyeruak, bagi pasangan yang berkunjung ke batu
itu, cinta mereka akan abadi. Nama Patengan pun diduga diambil dari
kisah pasangan dalam legenda tersebut, yakni dari kata pateangan-teangan
yang dalam bahasa Sunda berarti saling mencari.
Terlepas dari legendanya, Situ Patengan
memang memiliki daya tarik tersendiri. Sejauh mata memandang, pengunjung
dapat menikmati pemandangan indah berupa hamparan perkebunan teh,
pegunungan, perkebunan stroberi, serta hutan yang mengelilinginya.
Suasana terasa semakin nyaman karena kawasan ini berhawa sejuk. Bahkan,
setiap harinya nyaris selalu ditandangi kabut. Pengunjung pun bisa
mengelilingi danau menggunakan perahu. Sama halnya dengan legenda batu
cinta, konon, jika pasangan mengelilingi situ ini akan diberikan
kelanggengan.
Situ Patengan pun menyimpan potensi
flora dan fauna. Beberapa flora dan fauna unik dapat ditemui di kawasan
ini. Apalagi, Situ Patengan telah menjadi taman wisata sejak tahun 1981
yang sebelumnya merupakan kawasan cagar alam. Pepohonan khas Jawa Barat,
sejenis puspa dan saninten, masih banyak ditemukan. Jenis primata
langka, surili (Presbytis comata), juga masih kerap terlihat dan
terdengar suaranya di hutan sekitar situ. Untuk jenis ikan, situ ini
menjadi habitat ikan sejenis nila, mas, dan tawes.
Situ Patengan rutin menjadi tempat
kegiatan penanaman bibit ikan dan tanaman setiap tahunnya, yaitu setiap
tanggal 14 Maulid. Pada hari itu juga dilaksanakan ritus syukuran yang
dilakukan masyarakat sekitar Situ Patengan di Pulau Sasuka. Acara itu
juga merupakan bentuk penghormatan pada tanah leluhur, dilakukan semalam
suntuk, dan terbuka untuk umum. (Kania D.N./Periset “PR”)***
Peta : Lihat Peta Lebih Besar| Lokasi: | Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung (50 km dari ibu kota Kabupaten Bandung ke arah selatan) |
| Luas : | 150 hektare, terdiri dari situ dan hutan |
| Letak : | Pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut |
| Kedalaman situ : | 3 – 4 meter |
| Suhu : | 17-23 derajat Celsius |
| Keunikan : | Di tengah situ terdapat pulau yang terkenal dengan batu cintanya |
| Fasilitas : | Perahu dayung, perahu boat, dan sepeda air, yang bisa disewa untuk mengelilingi pulau; gazeebo untuk bersantai; toilet; warung cinderamata dan warung makan. |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar